HARI INI
Indeks
Nasional

Survei Maariv: Partai Baru Hendel Bisa Dorong Oposisi Israel ke Ambang 61 Kursi

Perkembangan politik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pembaca internasional, termasuk di Semarang yang rutin mengikuti berita luar negeri. Survei pemilu Israel terbaru menempatkan kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada proyeksi 47 kursi, sementara partai-partai oposisi berpeluang menyentuh mayoritas di Knesset jika mendapat dukungan partai baru.

Temuan itu berasal dari jajak pendapat lembaga swasta Lazar Research Institute yang dimuat harian Maariv dan dirilis pada Selasa, 8 September 2026. Data tersebut menggambarkan peta kekuatan parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang, dengan ambang minimum 61 kursi untuk membentuk pemerintahan.

Proyeksi kursi oposisi dan partai baru

Menurut hasil survei, partai-partai di blok oposisi diproyeksikan meraih 57 kursi. Sementara itu, partai baru yang digawangi Yoaz Hendel bersama ekonom Yaron Zelekha diperkirakan memperoleh empat kursi. Angka tersebut masih berada di bawah ambang mayoritas jika berdiri sendiri.

Namun, kombinasi 57 plus empat menghasilkan total 61 kursi. Itulah ambang batas minimum yang dibutuhkan untuk menyusun kabinet di Knesset. Dengan kata lain, arah dukungan partai Hendel-Zelekha menjadi variabel penentu dalam skenario pembentukan pemerintahan.

Sikap Hendel dan Zelekha belum jelas

Hingga publikasi survei, Hendel dan Zelekha belum memberi sinyal terbuka mengenai blok mana yang akan mereka dukung apabila partai mereka lolos ke parlemen. Ketidakpastian ini membuat spekulasi politik di Tel Aviv dan Yerusalem tetap terbuka, baik di kalangan pengamat maupun elite partai.

Bagi pembaca di Jawa Tengah yang mengikuti dinamika diplomasi dan keamanan regional, posisi partai baru tersebut relevan karena dapat mengubah komposisi pemerintahan Israel dan memengaruhi kebijakan luar negeri yang kerap berdampak pada isu-isu internasional yang diliput media Indonesia.

Blok Netanyahu dan hilangnya dukungan sayap kanan

Di sisi lain, blok yang bersekutu dengan Netanyahu diperkirakan hanya mengumpulkan 47 kursi. Penurunan dukungan itu dikaitkan dengan gagalnya partai sayap kanan jauh Amcha Yisrael yang dipimpin Ofer Winter meraih satu kursi pun dalam proyeksi survei yang sama.

Kehilangan potensi suara dari spektrum tersebut memperlebar jarak antara kubu petahana dan ambang mayoritas. Meski survei bukan hasil resmi pemungutan suara, angka 47 kursi menjadi indikator yang banyak dibahas media Israel dan laporan Anadolu yang dikutip pemberitaan regional.

Arti ambang 61 kursi di Knesset

Knesset memegang peran sentral dalam sistem parlementer Israel. Tanpa dukungan solid minimal 61 anggota, sebuah blok sulit mengamankan mandat untuk membentuk kabinet yang stabil. Itulah sebabnya selisih tipis antara 57 kursi oposisi dan tambahan empat kursi partai baru menjadi sorotan utama.

Pengamat biasanya mengingatkan bahwa jajak pendapat dapat bergeser seiring kampanye, koalisi mendadak, atau isu keamanan. Namun, untuk saat ini, data Lazar Research yang diterbitkan Maariv memberi gambaran bahwa oposisi berada dalam jarak jangkauan mayoritas, bergantung pada keputusan politik Hendel dan Zelekha.

Bagi publik Semarang dan Jateng, mengikuti survei pemilu Israel membantu memahami konteks berita Timur Tengah yang sering bersinggungan dengan isu kemanusiaan, diplomasi, dan ekonomi global. Perkembangan selanjutnya akan ditentukan oleh sikap partai baru serta respons blok-blok yang sudah mapan di parlemen.

Ringkasnya, proyeksi 47 kursi untuk kubu Netanyahu, 57 kursi oposisi, dan empat kursi partai Hendel-Zelekha menempatkan angka 61 sebagai kunci narasi politik Israel saat ini, tanpa mengubah fakta bahwa keputusan koalisi belum diumumkan secara resmi oleh para tokoh terkait.

Sumber: Sindo News.

Tag: pemilu Israel, Knesset, Netanyahu, oposisi Israel, survei Maariv, Yoaz Hendel, politik internasional, jajak pendapat