Silatnas Lazisnu menjadi sorotan di sela Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama ketika pengurus lembaga zakat dari berbagai wilayah bertemu di Jombang, Jawa Timur. Kegiatan yang digelar NU Care-Lazisnu PBNU pada Sabtu, 29 Agustus 2026, menempatkan pengelolaan filantropi berbasis riset dan data sebagai agenda utama. Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah, forum ini relevan karena jaringan Lazisnu di tingkat cabang dan wilayah turut menjadi bagian rantai penyaluran zakat, infak, serta sedekah yang menyentuh warga sehari-hari.
Pertemuan resmi digelar di aula Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, dan berlangsung di tengah rangkaian Muktamar ke-35 NU di kawasan Pondok Pesantren Tambakberas. Statusnya sebagai side event muktamar menegaskan bahwa isu filantropi tidak dipisahkan dari arah besar organisasi. Kehadiran amil dari Sabang hingga Merauke, plus perwakilan luar negeri, memperlihatkan jangkauan kelembagaan yang sudah melampaui batas administratif daerah.
Jumlah peserta dan peta perwakilan kepengurusan
Panitia mencatat total 261 peserta yang mewakili struktur Lazisnu di banyak tingkatan. Rinciannya meliputi 13 Lazisnu PWNU dengan 30 orang, 111 Lazisnu PCNU dengan 202 orang, serta satu Lazisnu PCINU luar negeri dengan dua peserta. Ditambah 27 peserta lain, komposisi itu menggambarkan konsentrasi terbesar masih berada di level kabupaten/kota, tempat layanan langsung kepada mustahik biasanya berjalan.
Keterlibatan PCINU dari negara seperti Yordania dan Turki menambah dimensi internasional. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa praktik penghimpunan dan penyaluran dana sosial NU tidak hanya diurus di dalam negeri. Standar tata kelola, pelaporan, dan basis data menjadi kebutuhan bersama agar program lintas wilayah tidak tumpang tindih dan tetap dapat diaudit.
Fokus memperkuat filantropi berbasis riset
Inti silaturahmi nasional ini bukan sekadar seremoni. NU Care-Lazisnu menekankan penguatan gerakan filantropi yang bertumpu pada riset dan data. Pendekatan itu diharapkan membantu amil membaca kebutuhan penerima manfaat secara lebih akurat, menyusun prioritas program, serta mengukur dampak penyaluran. Dalam konteks muktamar, pesan tersebut selaras dengan tuntutan transparansi lembaga sosial keagamaan di ruang publik.
Dengan data yang lebih rapi, potensi kolaborasi antarcabang—termasuk cabang di Jawa Tengah—dapat diarahkan pada isu konkret seperti ketahanan pangan keluarga, pendidikan, dan layanan kesehatan dasar. Riset internal juga berguna untuk menghindari tumpang tindih bantuan di satu lokasi sambil daerah lain masih minim jangkauan. Model kerja semacam ini menuntut disiplin pencatatan dari tingkat ranting hingga pusat.
Pesan direktur eksekutif di tanah muassis NU
Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu PBNU, Riri Khariroh, menilai penyelenggaraan Silatnas di lokasi yang lekat dengan sejarah berdirinya NU sebagai kebanggaan tersendiri. Ia menyoroti momentum yang bertepatan dengan Muktamar ke-35 dan berharap forum memperoleh berkah dari para kiai serta ulama yang hadir. Pernyataan itu menegaskan sisi spiritual sekaligus legitimasi kelembagaan kegiatan amil.
Kehadiran peserta dari hampir seluruh penjuru Indonesia menandai bahwa rantai komando dan koordinasi Lazisnu terus dijaga. Bagi publik Semarang, sinyal ini penting karena kepercayaan muzaki sangat bergantung pada profesionalitas amil di lapangan. Ketika pusat mengunci arah berbasis data, cabang dan wilayah dituntut menyesuaikan cara kerja, mulai dari verifikasi mustahik hingga publikasi laporan berkala.
Arti side event muktamar bagi jaringan daerah
Sebagai bagian dari perhelatan Muktamar ke-35 NU, Silatnas Lazisnu Sedunia menjadi ruang menyelaraskan bahasa program antarjenjang. Peserta tidak hanya menerima arahan, tetapi juga membawa potret persoalan lokal. Pola itu membuka peluang standarisasi layanan tanpa menghilangkan konteks daerah. Di Jawa Tengah, termasuk Semarang, kebutuhan urban dan pedesaan sering berbeda; data yang valid membantu membedakan respons yang tepat.
- Penyelenggara: NU Care-Lazisnu PBNU
- Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2026
- Lokasi utama kegiatan: aula Ponpes Darul Ulum, Peterongan, Jombang
- Konteks: side event Muktamar ke-35 NU di Ponpes Tambakberas
- Skala: 261 peserta, termasuk perwakilan PCINU luar negeri
Secara keseluruhan, pertemuan amil di Jombang menegaskan bahwa filantropi NU diarahkan ke praktik yang terukur, terbuka, dan tersambung dari pusat ke cabang. Masyarakat yang rutin berzakat maupun berinfak dapat menaruh perhatian pada tindak lanjut pasca-Silatnas: apakah standar data, pelaporan, dan riset kebutuhan benar-benar merata sampai tingkat kota dan kabupaten. Momentum muktamar memberi panggung; kerja sehari-hari amil di daerah yang akan menentukan hasilnya.
Sumber: Sindo News.
