Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Barat menjadi kesempatan menilai ulang arah pembangunan, terutama soal disparitas kota desa yang masih menjadi tantangan. Anggota DPRD Jawa Barat Sidkon Djampi menekankan bahwa kemajuan daerah tidak boleh hanya terlihat di pusat-pusat perkotaan, melainkan harus terasa hingga ke pelosok. Bagi pembaca di Semarang dan kawasan Jawa Tengah, isu kesenjangan wilayah ini relevan sebagai cermin kebijakan pembangunan antardaerah di Pulau Jawa.
Pernyataan itu disampaikan Sidkon di Bandung, Kamis (20/8/2026), seiring peringatan hari jadi provinsi. Ia menempatkan pemerataan kesejahteraan sebagai salah satu prioritas yang layak digarisbawahi pemerintah daerah. Tanpa perhatian khusus pada desa, pertumbuhan ekonomi di kota dinilai belum cukup menjadi ukuran keberhasilan.
Ukuran kemajuan tidak hanya di pusat kota
Menurut Sidkon, indikator kemajuan Jawa Barat perlu mencakup dampak nyata bagi warga desa. Akses pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur dasar, aktivitas ekonomi, dan pelayanan publik harus bergerak beriringan dengan dinamika di kawasan urban. Ia mengingatkan agar jarak kesejahteraan antara kota dan desa tidak semakin melebar.
Ia menegaskan pentingnya semangat tumbuh bersama. Kemajuan di kota, katanya, seyogyanya diikuti penguatan taraf hidup masyarakat pedesaan agar Jawa Barat tidak hanya unggul di titik-titik tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih menjamin fondasi pembangunan jangka panjang.
Potensi desa sebagai penggerak ekonomi
Desa digambarkan memiliki modal besar untuk menopang ekonomi daerah. Sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan masih menjadi tulang punggung banyak wilayah. Di samping itu, ekonomi kreatif serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut berpeluang memperluas lapangan kerja jika mendapat dukungan memadai.
Agar potensi itu berjalan, Sidkon mendorong pemerintah daerah memastikan infrastruktur dan konektivitas tidak hanya menumpuk di kota. Jaringan jalan, akses internet, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta pendampingan pelaku usaha di desa perlu diperkuat secara konsisten. Tanpa konektivitas, hasil produksi desa sulit tersambung ke pasar yang lebih luas.
Kebijakan harus sesuai karakteristik wilayah
Jawa Barat memiliki ragam kondisi geografis dan sosial yang berbeda antarkawasan. Karena itu, Sidkon mendorong penyusunan program pembangunan berdasarkan kebutuhan nyata di tiap daerah, bukan formula seragam yang diterapkan ke semua wilayah. Pendekatan seragam dinilai berisiko meleset dari persoalan di lapangan.
Ia menilai kebijakan yang berpijak pada kondisi masyarakat setempat akan lebih tepat sasaran. Persoalan dan peluang di satu kabupaten atau kota sering kali tidak identik dengan wilayah lain, sehingga penajaman prioritas menjadi kunci agar anggaran dan program benar-benar menjawab kebutuhan.
- Perkuat akses pendidikan dan kesehatan di desa
- Perluas infrastruktur serta konektivitas digital dan transportasi
- Dukung UMKM, pertanian, dan ekonomi kreatif lokal
- Susun program sesuai karakteristik tiap wilayah
Harapan di momentum hari jadi provinsi
Dalam momentum Hari Jadi ke-81, Sidkon berharap arah pembangunan semakin difokuskan pada pengetatan kesenjangan antarwilayah. Pemerataan dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari cita-cita Jawa Barat yang maju, mandiri, dan sejahtera. Keberhasilan, ujarnya, tidak cukup diukur dari kota yang kian berkembang, tetapi juga dari desa yang semakin berdaya.
Jika kota dan desa bergerak seirama, fondasi provinsi dinilai akan lebih kokoh. Pesan serupa tentang keseimbangan wilayah juga kerap menjadi perhatian daerah lain di Jawa, termasuk bagi pemangku kepentingan dan warga yang mengikuti dinamika pembangunan dari Semarang. Dengan menjaga fakta kebutuhan lokal tanpa menyeragamkan solusi, disparitas kota desa diharapkan dapat ditekan secara bertahap.
Secara keseluruhan, seruan legislator tersebut menempatkan hari jadi bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat agar manfaat pembangunan tersebar lebih adil. Langkah konkret pada infrastruktur, layanan dasar, dan ekonomi desa akan menentukan apakah semangat pemerataan benar-benar terwujud di tahun-tahun mendatang.
Sumber: Republika.
