Kehadiran SDH Global Bali menandai langkah Pelita Harapan Group (PHG) memperluas pilihan pendidikan berkualitas di Pulau Dewata. Grand launching sekolah ini digelar di Badung, Bali, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, sebagai kelanjutan soft launching sebelumnya. Fokus utamanya adalah memadukan mutu akademik bertaraf internasional dengan pembentukan karakter, pengembangan potensi, serta penghargaan terhadap identitas dan lingkungan tempat siswa tumbuh. Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah, model tersebut menjadi rujukan menarik soal pendidikan yang tidak melepaskan akar budaya di tengah arus global.
Komitmen PHG memajukan pendidikan di Bali
PHG menegaskan komitmen memajukan pendidikan di Bali melalui peluncuran Sekolah Dian Harapan (SDH) Global Bali. Sekolah ini diposisikan sebagai ruang belajar yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga merawat jati diri peserta didik. Di tengah intensifnya interaksi masyarakat Bali dengan teknologi, budaya, dan komunitas global, opsi pendidikan semacam ini dinilai semakin relevan bagi keluarga yang mencari keseimbangan antara daya saing dunia dan nilai setempat.
Grand launching menjadi penegasan resmi setelah tahap soft launching. Kehadiran SDH Global Bali sekaligus menambah peta pilihan sekolah bagi orang tua di Bali yang menginginkan lingkungan belajar modern tanpa mengabaikan konteks lokal. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan generasi muda yang harus siap berinteraksi lintas budaya, namun tetap memiliki fondasi karakter yang kuat.
Pesan Stephanie Riady soal taksu dan identitas
Presiden Pelita Harapan Group, Stephanie Riady, menyoroti kekhasan Bali sebagai lahan subur pengembangan pendidikan. Menurutnya, keterbukaan masyarakat Bali terhadap dunia berjalan beriringan dengan kemampuan menjaga tradisi. Ia menekankan kesan kuat setiap kunjungan ke Bali, termasuk konsep taksu: kemampuan menerima dunia tanpa kehilangan diri sendiri, di mana tradisi hidup berdampingan dengan modernitas.
Dari kondisi itu, Stephanie menarik pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Anak-anak perlu disiapkan menjadi bagian dari komunitas global tanpa terputus dari akar dan identitasnya. Prinsip ini makin krusial ketika teknologi dan kecerdasan artifisial berkembang pesat serta mulai mengambil alih sejumlah kemampuan yang dulu dianggap khas manusia. Pertanyaan pendidikan hari ini, ujarnya, tidak lagi sebatas apa yang harus diketahui anak, melainkan apa yang harus tetap menjadi kekuatan manusia ketika mesin semakin cerdas.
Standar global bertemu pembentukan karakter
SDH Global Bali dirancang menggabungkan kualitas akademik berstandar global dengan pembentukan karakter dan pengembangan potensi. Penghargaan terhadap identitas serta lingkungan tempat siswa bertumbuh menjadi bagian utuh dari visi sekolah. Dengan begitu, capaian belajar tidak hanya diukur dari angka rapor atau penguasaan materi internasional, tetapi juga dari kematangan sikap, kepekaan budaya, dan kemampuan beradaptasi secara sehat.
Di era digital, sekolah dituntut menjawab tantangan yang lebih kompleks. Siswa perlu literasi teknologi, daya pikir kritis, dan kolaborasi lintas batas, sambil tetap memiliki landasan nilai yang kokoh. Kombinasi itu diharapkan menghasilkan lulusan yang percaya diri di panggung global tanpa tercerabut dari konteks sosial dan kulturalnya. Pendekatan serupa sering menjadi bahan diskusi orang tua di kota-kota besar, termasuk Semarang, saat memilih jalur pendidikan jangka panjang bagi anak.
- Akademik berorientasi standar global
- Pembentukan karakter dan potensi individu
- Penghargaan identitas serta lingkungan lokal
- Kesiapan menghadapi teknologi dan AI
Relevansi bagi keluarga dan ekosistem pendidikan
Peluncuran di Badung memperlihatkan upaya lembaga pendidikan swasta merespons kebutuhan keluarga yang semakin terhubung dengan jaringan global. Bali dipilih karena konteks sosialnya yang khas: terbuka, namun mampu merawat tradisi. Model SDH Global Bali dapat dibaca sebagai tawaran praktis atas dilema klasik antara modernisasi kurikulum dan pelestarian jati diri.
Bagi pemangku kepentingan pendidikan di daerah lain, termasuk Jawa Tengah, inisiatif ini mengingatkan pentingnya merancang sekolah yang peka konteks. Bukan meniru bentuk secara mentah, melainkan menyesuaikan prinsip berakar lokal dan berwawasan global dengan karakteristik setempat. Orangtua di Semarang yang mengikuti perkembangan sekolah-sekolah jaringan nasional pun dapat menjadikan kerangka tersebut sebagai bahan pertimbangan saat menilai visi, budaya sekolah, dan kesiapan anak menghadapi perubahan teknologi.
Secara keseluruhan, grand launching SDH Global Bali menegaskan arah PHG: memperluas akses pada pendidikan yang kompetitif secara internasional sambil menempatkan identitas dan karakter sebagai pilar yang tidak bisa ditinggalkan. Di tengah diskursus AI dan globalisasi, pesan Stephanie Riady tentang menjaga “kekuatan manusia” menjadi pengingat bahwa sekolah tetap berperan membentuk manusia utuh, bukan sekadar penghasil keterampilan teknis. Peresmian di Badung pada 29 Agustus 2026 menjadi tonggak resmi dimulainya perjalanan sekolah tersebut di Bali.
Sumber: Sindo News.
