Bagi banyak keluarga di Indonesia, termasuk warga Semarang yang mencari rujukan layanan onkologi, pesan utama forum ROICAM 13 terasa relevan: diagnosis kanker tepat digabungkan dengan terapi yang sesuai dan pelayanan terpadu dapat membuka peluang hidup lebih panjang serta kualitas hidup yang tetap bermakna. Acara bertajuk Strength in Diversity, Excellence in Care: Because Cancer Is Not the End of Everything itu berlangsung di Jakarta pada 21–23 Agustus 2026.
Ketua Pelaksana ROICAM 13, dr. Eka Widya Khorinal, menekankan bahwa kemajuan obat dan teknologi saja tidak cukup. Kekuatan sesungguhnya muncul ketika dokter berbagai spesialisasi, fasilitas kesehatan, pemerintah, akademisi, komunitas pasien, dan masyarakat bergerak bersama dengan pasien sebagai pusat layanan. Menurutnya, kanker bukan titik akhir perjalanan hidup seseorang.
Beban kasus nasional yang terus meningkat
Data GLOBOCAN 2022 memperkirakan 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian terkait kanker di Indonesia. Tanpa perubahan strategi yang berarti, Rencana Kanker Nasional 2024–2034 memproyeksikan beban kasus dan kematian dapat naik sekitar 63 persen antara 2025 dan 2040. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan, deteksi dini, dan akses terapi harus diperkuat di seluruh wilayah.
Perjuangan melawan kanker digambarkan seperti upaya merobohkan dinding tebal berlapis-lapis. Lapisan itu meliputi kesadaran pencegahan dan skrining yang masih rendah, diagnosis yang sering terlambat, kesenjangan akses antar daerah, keterbatasan tenaga kesehatan, tantangan pembiayaan, serta belum meratanya diagnostik dan terapi berkualitas.
Keberagaman profesi sebagai kekuatan layanan
Tidak ada satu profesi atau institusi yang mampu menyelesaikan seluruh hambatan sendirian. Setiap disiplin membawa kompetensi berbeda, dan setiap unsur sistem kesehatan punya peran. Ketika arah kerjanya sama, keberagaman berubah menjadi daya dorong untuk pelayanan yang lebih unggul dan berpihak pada pasien.
Pendekatan multidisiplin juga membantu menekan risiko keterlambatan keputusan klinis. Koordinasi antara onkologi bedah, medik, radiasi, keperawatan onkologi, gizi, rehabilitasi, serta dukungan psikososial dinilai penting agar rencana pengobatan utuh dan dapat dijalankan secara aman.
Kanker berdampak sistemik, bukan hanya satu organ
Perubahan paradigma yang disorot dalam forum ini adalah memahami kanker tidak semata penyakit pada satu organ. Tumor dapat bermula di payudara, paru, saluran cerna, prostat, atau lokasi lain, namun penyakit dan terapinya sering menimbulkan efek sistemik. Pasien dapat mengalami anemia, infeksi, trombosis, malnutrisi, gangguan metabolik, serta gangguan fungsi ginjal, hati, paru, atau jantung.
Banyak pasien juga telah hidup dengan diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronik, atau gangguan hati. Kondisi penyerta itu memengaruhi pilihan terapi, dosis, dan kewaspadaan terhadap efek samping. Karena itu, penilaian menyeluruh sebelum dan selama pengobatan menjadi bagian tak terpisahkan dari standar pelayanan.
Implikasi bagi pasien dan keluarga di daerah
Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah, pesan forum ini menguatkan pentingnya tidak menunda pemeriksaan ketika muncul gejala mencurigakan, serta memanfaatkan jalur rujukan yang tersedia. Diagnosis yang lebih awal memperluas opsi terapi dan berpeluang memperbaiki luaran klinis. Keluarga juga perlu dilibatkan dalam edukasi perawatan, kepatuhan pengobatan, dan dukungan nutrisi maupun mental.
Kolaborasi lintas fasilitas—dari layanan primer hingga rumah sakit rujukan—diharapkan mengurangi kesenjangan informasi dan mempercepat penatalaksanaan. Pemerintah, akademisi, dan komunitas pasien memiliki ruang untuk memperkuat kampanye skrining, literasi kesehatan, serta advokasi akses pembiayaan yang lebih adil.
Secara keseluruhan, ROICAM 13 menempatkan harapan pada sinergi: diagnosis yang akurat, terapi yang tepat sasaran, dan kerja sama yang konsisten. Dengan fondasi itu, kanker diupayakan tidak lagi dibaca sebagai akhir segalanya, melainkan tantangan kesehatan yang dapat dihadapi secara lebih terencana dan manusiawi.
Sumber: Sindo News.
