Pembicaraan soal orkestrasi teknokratik NU kembali mengemuka setelah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Wardi Taufik, menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak lagi cukup diukur dari jumlah warga. Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah yang akrab dengan jejaring nahdliyin, pesan itu relevan: basis sosial sudah besar, namun kemampuan mengorkestrasi agenda strategis masih menjadi pekerjaan rumah.
Menurut Wardi, Nahdlatul Ulama tidak sedang dilanda krisis keanggotaan maupun krisis legitimasi sosial. Temuan Alvara Research Center tahun 2025 menyebut sekitar 57,2 persen atau mendekati 145 juta orang dari populasi muslim Indonesia mengidentifikasi diri sebagai nahdliyin. Angka itu menegaskan posisi NU sebagai organisasi dengan jangkauan sangat luas hingga pelosok negeri.
Jumlah warga besar belum otomatis jadi daya transformasi
Meski data survei menguatkan citra NU sebagai jam’iyah raksasa, pertanyaan krusial tetap diajukan: mengapa kemampuan menggerakkan agenda-agenda strategis bangsa belum sepenuhnya matang? Wardi menilai pengukuran kekuatan hanya lewat kuantitas warga akan mudah disoal publik. Masyarakat kini menagih dampak nyata, bukan sekadar angka keanggotaan.
Ia menekankan NU tidak kekurangan tokoh maupun sumber daya manusia. Yang belum terbentuk secara utuh adalah ekosistem teknokratik yang menata peran banyak pelaku hebat ke dalam satu arah pembangunan yang maslahat dan terukur. Tanpa simfoni bersama, energi tersebar dan sulit menjadi instrumen transformasi yang konsisten.
Dari modal sosial abad pertama ke kapasitas strategis
Selama satu abad pertama, modal sosial menjadi tumpuan utama NU. Modal itu, kata Wardi, membantu menjaga keutuhan Indonesia ketika ancaman internal maupun eksternal muncul, termasuk otoritarianisme, ekstremisme, dan disintegrasi. NU berperan sebagai jangkar sosial yang menstabilkan kehidupan kebangsaan.
Kondisi zaman kini berbeda. Persaingan antarbangsa tidak lagi ditentukan oleh besarnya populasi atau ukuran organisasi kemasyarakatan semata. Yang menentukan adalah kemampuan membangun ekosistem dari hulu ke hilir. Karena itu, percepatan pergeseran dari modal sosial menuju modal strategis dan teknokratis dinilai mendesak.
Ekosistem teknokratik sebagai “mesin” agenda bangsa
Dalam kerangka itu, orkestrasi teknokratik dipahami sebagai cara menata keahlian, data, kebijakan, dan jejaring kelembagaan agar bergerak selaras. NU digambarkan memiliki banyak pemain berkualitas, tetapi belum sepenuhnya memiliki sistem yang menghubungkan mereka dalam target yang jelas, terukur, dan berkelanjutan.
Tanpa penataan semacam itu, organisasi berisiko tampak “kehabisan napas” saat menanggung ekspektasi publik yang semakin tinggi. Kebutuhan akan “mesin baru” bukan soal mengganti identitas keagamaan, melainkan memperkuat tata kelola agar kontribusi pada isu bangsa lebih sistematis—dari pendidikan, kesejahteraan, hingga kohesi sosial.
- Basis massa dan legitimasi sosial NU relatif kuat menurut survei.
- Kebutuhan utama: menghubungkan SDM dan tokoh dalam satu ekosistem kerja.
- Arah transformasi: modal sosial diperluas menjadi kapasitas strategis-teknokratis.
- Tolok ukur publik bergeser dari jumlah warga ke dampak agenda bangsa.
Implikasi wacana bagi nahdliyin di tingkat daerah
Wacana ini bersifat nasional, namun beririsan dengan praktik organisasi di daerah, termasuk Semarang dan wilayah Jawa Tengah yang selama ini memiliki tradisi ke-NU-an kuat. Logika yang sama berlaku: struktur ranting hingga cabang akan lebih berdampak bila program tidak berhenti pada mobilisasi, melainkan ditopang perencanaan, evaluasi, dan kolaborasi lintas bidang keahlian.
Bagi kalangan sarjana dan profesional nahdliyin, pesan ISNU itu menjadi pengingat bahwa kontribusi keilmuan perlu diikat ke dalam kerja kolektif. Bukan sekadar kehadiran simbolik, melainkan partisipasi pada perumusan solusi yang dapat diukur hasilnya di tengah perubahan sosial-ekonomi yang cepat.
Pada akhirnya, ajakan Wardi Taufik menempatkan NU pada titik refleksi dewasa: warga sudah banyak, tokoh tersedia, sumber daya ada. Langkah berikutnya adalah membangun orkestrasi teknokratik agar jam’iyah mampu menjalankan agenda strategis bangsa dengan napas panjang, arah jelas, dan manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat luas.
Sumber: Sindo News.
