Keluarga jurnalis iNews Yudistiro Pranoto terus menahan harap di tengah kabar jurnalis hilang kontak di perairan Selat Sunda. Mereka meyakini Yudistiro bersama empat rekan liputan, kru kapal, dan pemandu masih bisa ditemukan dalam kondisi selamat setelah tiga hari tak tersambung saat berangkat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara keluarga, Ade Danhur, saat mendatangi Pos Ante Mortem DVI Polda Banten di Posko SAR Gabungan, Pantai Carita, Banten, pada Kamis, 10 September 2026. Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah, peristiwa ini menjadi pengingat risiko kerja peliputan bencana yang kerap melibatkan kru media dari berbagai daerah.
Keyakinan keluarga: kemungkinan terdampar, bukan putus asa
Ade menegaskan pihak keluarga belum sekali pun membayangkan skenario terburuk. Ia justru berpegang pada keyakinan bahwa rombongan hanya terdampar dan menunggu bantuan. Harapan bertemu kembali dalam keadaan utuh masih menjadi doa utama yang diulang di posko.
Meski begitu, keluarga juga menyatakan kesiapan mental menerima segala kemungkinan. Menurut Ade, risiko tersebut melekat pada profesi jurnalis lapangan, terutama ketika meliput erupsi di kawasan laut yang cuacanya cepat berubah.
Identitas dan ciri fisik diserahkan ke pos DVI
Kedatangan keluarga ke pos ante mortem bukan sekadar menunggu kabar. Mereka menyerahkan data identitas pribadi Yudistiro, dilengkapi uraian ciri fisik serta pakaian yang dikenakan sebelum berangkat. Langkah itu dimaksudkan mempercepat proses identifikasi apabila tim menemukan temuan yang perlu dicocokkan.
Penyerahan dokumen dilakukan dengan suasana tegang namun tertib. Keluarga menekankan bahwa langkah administratif itu tidak mengurangi doa agar yang bersangkutan kembali tanpa harus melalui prosedur identifikasiformal yang menyakitkan.
Konteks pencarian di jalur liputan Anak Krakatau
Rombongan hilang kontak dalam perjalanan liputan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau. Wilayah Selat Sunda dikenal rawan perubahan arus dan jarak pandang, sehingga operasi pencarian melibatkan koordinasi sejumlah instansi di posko gabungan Pantai Carita.
Bagi masyarakat Semarang yang mengikuti perkembangan bencana nasional, kabar ini juga menyoroti pentingnya dukungan logistik dan informasi akurat dari basarnas serta aparat setempat. Setiap jam pencarian dinilai berharga bagi keluarga yang menunggu di darat.
- Lokasi pantauan keluarga: Pos Ante Mortem DVI Polda Banten, Pantai Carita
- Waktu pernyataan: Kamis, 10 September 2026
- Yang diharapkan selamat: Yudistiro Pranoto, empat jurnalis lain, kru kapal, dan pemandu
- Lama hilang kontak saat pernyataan: sekitar tiga hari
Sikap berserah dan dukungan untuk keluarga media
Ade menggambarkan posisi keluarga sebagai manusia yang sudah siap, namun tidak berhenti berdoa. Ia menyebut seluruh kerabat hanya mampu berserah sambil menunggu hasil operasi di laut. Nada suaranya mencerminkan campuran ketegaran dan kepasrahan yang umum dirasakan keluarga pekerja media di lapangan berat.
Dukungan moral dari rekan sejawat dan masyarakat dinilai membantu. Portal daerah seperti di Semarang kerap meneruskan perkembangan serupa agar publik tidak hanya melihat angka korban, tetapi juga wajah keluarga yang menunggu di tepi pantai.
Hingga pernyataan keluarga disampaikan, harapan utama tetap sama: Yudistiro Pranoto dan seluruh rombongan ditemukan selamat. Proses pencarian berlanjut di bawah koordinasi posko SAR gabungan, sementara data yang diserahkan keluarga menjadi bagian dari kesiapan tim di darat.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari posko agar tidak teperdaya spekulasi. Doa kolektif dan kesabaran menunggu hasil pencarian menjadi hal yang saat ini paling dibutuhkan keluarga di Carita.
Sumber: Sindo News.
