HARI INI
Indeks
Nasional

Wisata Nusantara Menggeliat, Kenapa Bandara Malah Sepi Penumpang?

Minat masyarakat terhadap wisata nusantara terus menguat, termasuk di kalangan warga Jawa Tengah dan Semarang yang gemar menjelajah destinasi dalam negeri. Meski begitu, lonjakan perjalanan lokal belum otomatis mengisi kabin pesawat. Pola pilih moda transportasi sedang berubah, dan angka resmi memperlihatkan kesenjangan yang cukup mencolok.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Mei 2026 mencapai 106,16 juta perjalanan. Angka itu tumbuh 8,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat yang bersamaan, penumpang angkutan udara domestik justru merosot 10,11 persen secara tahunan menjadi 4,1 juta orang.

Data kumulatif mempertegas tren berlawanan

Secara akumulasi Januari hingga Mei 2026, penumpang pesawat domestik tercatat 23,3 juta orang. Capaian itu masih lebih rendah 1,63 persen dibandingkan rentang waktu yang sama pada 2025. Artinya, pelemahan bukan hanya terjadi di satu bulan, melainkan sudah terasa sepanjang lima bulan pertama tahun berjalan.

Bagi pembaca di Semarang, temuan ini relevan karena banyak perjalanan liburan keluar kota kini mempertimbangkan kereta api, bus jarak jauh, atau perjalanan darat lainnya. Ketika destinasi masih dalam jangkauan darat yang masuk akal, opsi udara sering digeser ke belakang daftar prioritas.

Perilaku penumpang dan sensitivitas harga tiket

Kesenjangan antara naiknya aktivitas wisata dan turunnya penumpang pesawat menandai pergeseran perilaku. Masyarakat tetap bepergian, tetapi semakin selektif memilih moda. Harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor yang paling ditimbang sebelum memutuskan terbang atau tidak.

Calon penumpang membandingkan total biaya perjalanan, waktu tempuh, dan kenyamanan. Jika selisih harga udara dan darat terasa besar, banyak yang beralih tanpa meninggalkan rencana wisatanya. Itulah sebabnya volume perjalanan wisnus bisa naik sementara kursi pesawat domestik justru longgar.

Harga avtur bukan penentu tunggal tarif tiket

Beredar anggapan bahwa penurunan harga avtur akan langsung menekan tarif tiket. Kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Struktur biaya maskapai mencakup banyak komponen lain, sehingga pergerakan harga bahan bakar tidak selalu berimbas seketika dan sebanding ke harga yang dibayar penumpang.

Karena itu, harapan tiket murah semata-mata dari pelemahan avtur perlu disikapi hati-hati. Konsumen tetap perlu memantau promo, waktu pemesanan, serta rute, alih-alih mengandalkan satu variabel biaya saja.

Implikasi bagi perjalanan dari Semarang dan sekitarnya

Bagi warga Semarang dan kawasan metropolitan sekitarnya, pilihan moda semakin beragam. Destinasi di Jawa sering dijangkau lewat darat dengan biaya yang relatif terkendali, sementara penerbangan lebih sering dipertimbangkan untuk jarak jauh atau jadwal yang sangat ketat. Pola ini sejalan dengan gambaran nasional: wisata tetap jalan, tetapi pesawat bukan lagi pilihan otomatis.

Pelaku industri pariwisata dan transportasi perlu membaca sinyal ini. Penguatan konektivitas darat, paket perjalanan terpadu, serta transparansi harga dapat membantu menyesuaikan diri dengan preferensi baru wisatawan domestik. Di sisi lain, maskapai dituntut lebih jeli mengelola tarif agar tetap kompetitif tanpa mengabaikan biaya operasional.

Ringkasnya, geliat wisata nusantara nyata terlihat dari data BPS, namun pemulihan atau pertumbuhan penumpang udara domestik masih terhambat pertimbangan harga dan pergeseran moda. Memahami penyebabnya membantu traveler Semarang dan publik luas merencanakan perjalanan lebih rasional, sekaligus memberi peta bagi pemangku kepentingan transportasi dan pariwisata.

Sumber: Sindo News.

Tag: wisata nusantara, penumpang pesawat, BPS, tiket pesawat, transportasi udara, pariwisata domestik, Semarang, Jawa Tengah