PT Bank Sahabat Sampoerna mencatat penguatan kinerja keuangan pada paruh pertama 2026. Laba bersih setelah pajak hingga akhir Juni mencapai Rp15,9 miliar, melonjak 41,29 persen dibandingkan Rp11,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian Bank Sampoerna UMKM itu menjadi modal penting untuk mempertahankan arus pembiayaan ke usaha mikro, kecil, dan menengah.
Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah yang memantau pergerakan perbankan nasional, angka tersebut memberi sinyal bahwa penyaluran kredit produktif tetap menjadi prioritas di tengah kondisi likuiditas yang relatif terjaga. Perusahaan menegaskan misi pemberdayaan pelaku usaha lewat skema pembiayaan yang konsisten, baik secara langsung maupun lewat mitra.
Laba menguat memasuki semester kedua
Memasuki semester II-2026, posisi laba yang lebih tinggi menempatkan bank pada fondasi relatif solid. Kenaikan tersebut tidak hanya mencerminkan efisiensi operasional, tetapi juga kepercayaan nasabah yang terus terjaga. Manajemen menilai hasil semester pertama cukup untuk menopang target penyaluran di sisa tahun berjalan.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengaitkan kelancaran penyaluran kredit dengan ketersediaan likuiditas yang memadai. Tanpa buffer dana yang cukup, ekspansi ke segmen UMKM sulit dijaga secara berkesinambungan.
Hampir 60 persen kredit mengalir ke UMKM
Sampai akhir Juni 2026, hampir 60 persen total kredit bank atau sekitar Rp6,2 triliun terserap pelaku UMKM. Dari jumlah itu, penyaluran langsung ke debitur usaha mencapai Rp5,5 triliun. Sisanya, Rp628,8 miliar, disalurkan tidak langsung melalui jejaring mitra strategis.
Mitra tersebut meliputi perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura. Pola kolaborasi ini memperluas jangkauan tanpa harus membangun cabang baru di setiap kota. Total penyaluran pembiayaan bank tercatat Rp10,6 triliun, dengan kontribusi terbesar masih berasal dari segmen wholesale business.
- Penyaluran langsung UMKM: Rp5,5 triliun
- Penyaluran lewat mitra: Rp628,8 miliar
- Perkiraan porsi UMKM terhadap total kredit: hampir 60 persen
- Total pembiayaan tersalur: Rp10,6 triliun
Kanal ritel PDAja.com dan fleksibilitas plafon
Selain skema wholesale dan kemitraan, bank memperkuat pembiayaan ritel melalui PDAja.com. Platform itu memberi keleluasaan nasabah menarik dana sesuai kebutuhan. Bunga hanya dihitung dari plafon yang terpakai, baik untuk pengembangan usaha maupun keperluan pribadi.
Model tersebut dinilai membantu pelaku usaha yang arus kasnya fluktuatif. Mereka tidak perlu menarik seluruh plafon di muka, sehingga beban bunga dapat dikendalikan. Pendekatan ini melengkapi penyaluran konvensional yang sudah berjalan.
CASA Rp2,6 triliun topang likuiditas
Per Juni 2026, penghimpunan dana murah atau CASA dari giro dan tabungan mencapai Rp2,6 triliun. Dana murah ini menjadi salah satu penopang utama agar bank tetap mampu menyalurkan kredit tanpa tekanan biaya dana yang berlebihan.
Dengan struktur pendanaan yang relatif sehat, manajemen berharap misi mendukung UMKM tidak terhambat di semester kedua. Kepercayaan nasabah dan kolaborasi mitra disebut sebagai dua faktor yang menopang capaian kuartal II-2026.
Secara keseluruhan, kombinasi laba yang naik, porsi kredit UMKM yang dominan, serta CASA yang memadai memberi ruang bagi Bank Sampoerna untuk menjaga momentum pembiayaan. Pelaku usaha di berbagai daerah, termasuk yang memantau dari Semarang, dapat menjadikan data ini sebagai salah satu rujukan saat menilai akses permodalan perbankan swasta berskala menengah.
Sumber: Sindo News.
